VISI & MISI TRANS TV
VISI
Menjadi televisi terbaik di Indonesia maupun ASEAN, memberikan hasil usaha yang positif bagi stakeholders, menyampaikan program-program berkualitas, berperilaku berdasarkan nilai-nilai moral budaya kerja yang dapat diterima oleh stakeholders serta mitra kerja, dan memberikan kontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan serta kecerdasan masyarakat.
MISI
Wadah gagasan dan aspirasi masyarakat untuk mencerdaskan serta mensejahterakan bangsa, memperkuat persatuan dan menumbuhkan nilai-nilai demokrasi.
Sunday, March 28, 2010
Sunday, March 7, 2010
Monday, March 1, 2010
Pertama: ketertiban berlalu lintas. Hampir semua orang di sana sangat "sadar" dengan kepatuhan terhadap lalin (meski kalo di kota besar, ya tentu adalah satu-dua yang anomali ya, gak terlalu tertib). Infrastruktur dan aturan main di sektor publik juga relatif memadai dan mendukung sehingga membuat "keteraturan" di ruang-ruang publik (bandara, stasiun kereta api/bis, di dalam kereta, bis, de-el-el) juga semakin nyata.
rata-rata dari mereka punya etos kerja yang relatif luar biasa ya.. mungkin terdorong oleh "gen" western mereka, atau karena kompetisi antara "negara eropa" atau memang karena proses kehidupan di sana menjadikan mereka begitu, misalnya dengan adanya kenyataaan empat musim yang mereka hadapi, yang relatif berbeda satu sama lain, justru nampaknya membuat mereka ektra kerja keras agar bisa survive. Coba bandingkan dengan kondisi kita dengan jargon "hidup di tanah surga, hidup di kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu -- hehe... menyitir sedikit lagunay Koes Ploes...tapi betul kan?). "Fighting spirit" kita memang beda sama mereka, hampir dalam segalanya... Misalnya saja begini mereka bisa membagi waktu dan tenaga untuk belajar sekaligus bekerja dengan tetap punya energi yang besar. Sebagian dari mereka bilang ini karena pada musim tertentu cuaca gak terlalu panas sehingga membuat mereka gak terlalu capek dan kedua karena mereka "full gizi" terutama karena mereka sangat suka susu dan keju. Ini menurut mereka lho ya, hehe...
Kalau untuk mahasiswa sendiri, mereka tipe liberal (sekuler) dalam berpikir tapi serius dalam hidup. Artinya kita akan mendapati (andai bisa ke sana) mereka mabuk, parti gila-gilaan di weekend (sabtu - minggu), jadi banyak yang gak ke gereja (hehe..), ngisep ganja-mariyuana (bisa bebas dibeli di coffee-shop hampir di setiap kota di Belanda), tapi untuk Senin sampai Jum'at mereka akan sangat tune-in di kampus, ngerjain proyek belajar di kafe-kafe di kampus, bertebaran untuk diskusi (buka buku2) di taman-taman (kalau musim semi or fall - tapi kalo pas ada matahari) atau bahkan banyak yang kalo gak di kelas yang pasti di perpus. Hebat ya!!! two thumbs up!!
rata-rata dari mereka punya etos kerja yang relatif luar biasa ya.. mungkin terdorong oleh "gen" western mereka, atau karena kompetisi antara "negara eropa" atau memang karena proses kehidupan di sana menjadikan mereka begitu, misalnya dengan adanya kenyataaan empat musim yang mereka hadapi, yang relatif berbeda satu sama lain, justru nampaknya membuat mereka ektra kerja keras agar bisa survive. Coba bandingkan dengan kondisi kita dengan jargon "hidup di tanah surga, hidup di kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu -- hehe... menyitir sedikit lagunay Koes Ploes...tapi betul kan?). "Fighting spirit" kita memang beda sama mereka, hampir dalam segalanya... Misalnya saja begini mereka bisa membagi waktu dan tenaga untuk belajar sekaligus bekerja dengan tetap punya energi yang besar. Sebagian dari mereka bilang ini karena pada musim tertentu cuaca gak terlalu panas sehingga membuat mereka gak terlalu capek dan kedua karena mereka "full gizi" terutama karena mereka sangat suka susu dan keju. Ini menurut mereka lho ya, hehe...
Kalau untuk mahasiswa sendiri, mereka tipe liberal (sekuler) dalam berpikir tapi serius dalam hidup. Artinya kita akan mendapati (andai bisa ke sana) mereka mabuk, parti gila-gilaan di weekend (sabtu - minggu), jadi banyak yang gak ke gereja (hehe..), ngisep ganja-mariyuana (bisa bebas dibeli di coffee-shop hampir di setiap kota di Belanda), tapi untuk Senin sampai Jum'at mereka akan sangat tune-in di kampus, ngerjain proyek belajar di kafe-kafe di kampus, bertebaran untuk diskusi (buka buku2) di taman-taman (kalau musim semi or fall - tapi kalo pas ada matahari) atau bahkan banyak yang kalo gak di kelas yang pasti di perpus. Hebat ya!!! two thumbs up!!
Sunday, February 28, 2010
ini saya langsung copy-paste message dari kakak saya yang pernah tinggal dan belajar di Belanda.
Halo, dek Agung...
aku sedikit jelasin program pendidikannya mbak Lastri dulu ya, sehingga dek Agung punya gambaran juga mengapa mbak Lastri gak terlalu banyak tahu banyak hal tentang pendidikan di sana, atau kalau tahu ya, hanya sedikit sekali mungkin...
Andai tugas ini gak terlalu mendesak dirimu bisa kurujuk untuk ngobrol dengan teman kostku yang sekarang masih di sana dan ambil program S2, minimal karena dia justru tinggal terus di Belanda, perkiraan mbak Lastri justru dia lebih banyak tahu daripada mbak Lastri.
Okey, untuk sementara aku jelasin dulu programnya mbak Lastri.
Mbak Lastri sekarang ambil program S3 (doktoral) di bidang psikologi, dengan model sandwich-program dan by-research. Artinya tidak seperti pendidikan pada level S1 dan S2 yang masih harus banyak belajar materi-materi kuliah di kelas-kelas, kalau level Doktor (S3/PhD) yang mbak Lastri ambil sama sekali sudah tidak ada materi-materi di kelas, tetapi dengan melakukan penelitian-penelitian (by-research) dan dilakukan di negara sendiri sehingga pengambilan data di Indonesia dan balik ke Belanda untuk supervisi aja setahun sekali tinggal disana antara 2-3 bulan (sandwich, selang-seling, kira-kira begitu). Nah, jadi waktu pendidikan mbak Lastri lebih banyak mengolah materi-materi sendiri (tidak di kelas) dengan melakukan penelitian (di Indonesia) dan tinggal di sana hanyak sebentar. Untuk level doktor (karena juga tidak di kelas), kami diberi ruang sendiri-sendiri untuk bekerja dan belajar...jadi sama sekali gak nyampur dengan mahasiswa lain..
Nah, itu sebabnya mbak Lastri bilang di awal bahwa mbak Lastri hanya tahu sedikit aja tentang program pendidikan di sana, apalagi kalau tugasnya dek Agung untuk studi perbandingan model pendidikan (S1 dan S2) yang di Belanda.... Tapi, sejauh yang mbak Lastri tahu, kayaknya sih sama aja ya antara Indonesia dan Belanda.. mereka sistem pelajaran (kuliah) di kelas, dengan sistem kredit untuk mata kuliah yang ditawarkan, ada tugas-tugas untuk masing-masing kuliah, ada tugas presentasi juga, ada mid-test dan test akhir.. ada tugas lapangan, ada skripsi untuk S1 dan tesis untuk S2 en so on.. Relatif hampir sama kan?
Yang mbak Lastri lihat agak spesial, khususnya di Radboud University, Nijmegen, the Netherlands, tempat mbak Lastri belajar tsb dan agak membedakan dari yang ada di Indonesia (minimal di Univ Soegijapranata, gak tahu kalo Univ-nya dek Agung) adalah untuk mahasiswa S1 saat mereka mengerjakan tugas akhir (Skripsi), masing-masing mahasiswa mendapat tempat ruangan khusus untuk pengerjaan skripsi (meskipun bukan satu mahasiswa satu ruangan) tapi itu adalah satu ruangan besar, dengan komputer-komputer sendiri-sendiri untuk masing-masing mahasiswa dan mereka mengerjakan skripsi mereka setiap hari di ruangan tersebut..
Kalau sistem di Indonesia, saat skripsi kan kita ngerjainnya sesuka kita mau dimana aja kan? Nah, kalau mereka enggak. Jadi relatif dapat dikontrol progress dari skripsi mereka, asyik ya... Begitu juga dengan yang sedang S2 juga begitu. Tapi kalau yang S2, diberi ruangan di lantai lain dan satu ruangan hanya berisi 2 mahasiswa S2 yang lagi ngerjain thesis, dan mereka wajib "ngantor" tiap hari untuk ngerjain thesis mereka (sama seperti yang S1).
Tentang pertanyaan kedua: "budaya", aduh... sori mbak Lastri gak bisa terlalu banyak cerita nich... gak terlalu tahu juga sih ya.. "Budaya" kan perspektifnya juga sangat luas, dek? Coba kalau dibalik pertanyaannya "budaya Indonesia".. banyak sekali kan? dan kita mau mulai darimana jelasinnya kalau diberi pertanyaan seperti itu oleh mahasiswa asing? Nah, mbak Lastri sendiri juga agak repot untuk jawab pertanyaan dek Agung tentang "Budaya Belanda" yang kayak apa? Budaya lisan, tertulis? Budaya tradisional, modern? Nyanyi, tarian, bahasa? Buanyaakk banget perspektifnya.. dipersempit dulu kali ya pertanyaannya.
Untuk pertanyaan ketiga : karir. Sejauh yang mbak Lastri tahu, yang relatif membedakan hanya sekedar mereka negara kecil, tapi kaya, maju dan modern. Sehingga penghargaan mereka terhadap profesi apa pun di sana relatif baik, dan sistem penggajian-pun relatif memadai, sehingga tidak terlalu mencolok jurang antara si kaya dan si miskin... Relatif setiap orang tertolong untuk hidup dengan layak. Di kota besar mungkin masih ada sih, gelandangan atau pengemis, tapi itu bisa dihitung jari dan pada dasarnya bagi mereka yang tidak punya pekerjaan ada tunjangan sosial dari pemerintah, tapi orang Belanda (atau Eropa) pada umumnya merasa itu sesuatu yang sangat memalukan.. Beda ya dengan di sini?
So, bicara soal karir, untuk di Belanda, semakin baik dan semakin tinggi pendidikan yang ditempuh maka akan terbuka peluang untuk mendapat pekerjaan yang baik dan gaji yang baik..Semakin banyak pengalaman dan keterampilan juga membuka peluang semakin banyak pekerjaan bisa didapat... intinya begitu..
Halo, dek Agung...
aku sedikit jelasin program pendidikannya mbak Lastri dulu ya, sehingga dek Agung punya gambaran juga mengapa mbak Lastri gak terlalu banyak tahu banyak hal tentang pendidikan di sana, atau kalau tahu ya, hanya sedikit sekali mungkin...
Andai tugas ini gak terlalu mendesak dirimu bisa kurujuk untuk ngobrol dengan teman kostku yang sekarang masih di sana dan ambil program S2, minimal karena dia justru tinggal terus di Belanda, perkiraan mbak Lastri justru dia lebih banyak tahu daripada mbak Lastri.
Okey, untuk sementara aku jelasin dulu programnya mbak Lastri.
Mbak Lastri sekarang ambil program S3 (doktoral) di bidang psikologi, dengan model sandwich-program dan by-research. Artinya tidak seperti pendidikan pada level S1 dan S2 yang masih harus banyak belajar materi-materi kuliah di kelas-kelas, kalau level Doktor (S3/PhD) yang mbak Lastri ambil sama sekali sudah tidak ada materi-materi di kelas, tetapi dengan melakukan penelitian-penelitian (by-research) dan dilakukan di negara sendiri sehingga pengambilan data di Indonesia dan balik ke Belanda untuk supervisi aja setahun sekali tinggal disana antara 2-3 bulan (sandwich, selang-seling, kira-kira begitu). Nah, jadi waktu pendidikan mbak Lastri lebih banyak mengolah materi-materi sendiri (tidak di kelas) dengan melakukan penelitian (di Indonesia) dan tinggal di sana hanyak sebentar. Untuk level doktor (karena juga tidak di kelas), kami diberi ruang sendiri-sendiri untuk bekerja dan belajar...jadi sama sekali gak nyampur dengan mahasiswa lain..
Nah, itu sebabnya mbak Lastri bilang di awal bahwa mbak Lastri hanya tahu sedikit aja tentang program pendidikan di sana, apalagi kalau tugasnya dek Agung untuk studi perbandingan model pendidikan (S1 dan S2) yang di Belanda.... Tapi, sejauh yang mbak Lastri tahu, kayaknya sih sama aja ya antara Indonesia dan Belanda.. mereka sistem pelajaran (kuliah) di kelas, dengan sistem kredit untuk mata kuliah yang ditawarkan, ada tugas-tugas untuk masing-masing kuliah, ada tugas presentasi juga, ada mid-test dan test akhir.. ada tugas lapangan, ada skripsi untuk S1 dan tesis untuk S2 en so on.. Relatif hampir sama kan?
Yang mbak Lastri lihat agak spesial, khususnya di Radboud University, Nijmegen, the Netherlands, tempat mbak Lastri belajar tsb dan agak membedakan dari yang ada di Indonesia (minimal di Univ Soegijapranata, gak tahu kalo Univ-nya dek Agung) adalah untuk mahasiswa S1 saat mereka mengerjakan tugas akhir (Skripsi), masing-masing mahasiswa mendapat tempat ruangan khusus untuk pengerjaan skripsi (meskipun bukan satu mahasiswa satu ruangan) tapi itu adalah satu ruangan besar, dengan komputer-komputer sendiri-sendiri untuk masing-masing mahasiswa dan mereka mengerjakan skripsi mereka setiap hari di ruangan tersebut..
Kalau sistem di Indonesia, saat skripsi kan kita ngerjainnya sesuka kita mau dimana aja kan? Nah, kalau mereka enggak. Jadi relatif dapat dikontrol progress dari skripsi mereka, asyik ya... Begitu juga dengan yang sedang S2 juga begitu. Tapi kalau yang S2, diberi ruangan di lantai lain dan satu ruangan hanya berisi 2 mahasiswa S2 yang lagi ngerjain thesis, dan mereka wajib "ngantor" tiap hari untuk ngerjain thesis mereka (sama seperti yang S1).
Tentang pertanyaan kedua: "budaya", aduh... sori mbak Lastri gak bisa terlalu banyak cerita nich... gak terlalu tahu juga sih ya.. "Budaya" kan perspektifnya juga sangat luas, dek? Coba kalau dibalik pertanyaannya "budaya Indonesia".. banyak sekali kan? dan kita mau mulai darimana jelasinnya kalau diberi pertanyaan seperti itu oleh mahasiswa asing? Nah, mbak Lastri sendiri juga agak repot untuk jawab pertanyaan dek Agung tentang "Budaya Belanda" yang kayak apa? Budaya lisan, tertulis? Budaya tradisional, modern? Nyanyi, tarian, bahasa? Buanyaakk banget perspektifnya.. dipersempit dulu kali ya pertanyaannya.
Untuk pertanyaan ketiga : karir. Sejauh yang mbak Lastri tahu, yang relatif membedakan hanya sekedar mereka negara kecil, tapi kaya, maju dan modern. Sehingga penghargaan mereka terhadap profesi apa pun di sana relatif baik, dan sistem penggajian-pun relatif memadai, sehingga tidak terlalu mencolok jurang antara si kaya dan si miskin... Relatif setiap orang tertolong untuk hidup dengan layak. Di kota besar mungkin masih ada sih, gelandangan atau pengemis, tapi itu bisa dihitung jari dan pada dasarnya bagi mereka yang tidak punya pekerjaan ada tunjangan sosial dari pemerintah, tapi orang Belanda (atau Eropa) pada umumnya merasa itu sesuatu yang sangat memalukan.. Beda ya dengan di sini?
So, bicara soal karir, untuk di Belanda, semakin baik dan semakin tinggi pendidikan yang ditempuh maka akan terbuka peluang untuk mendapat pekerjaan yang baik dan gaji yang baik..Semakin banyak pengalaman dan keterampilan juga membuka peluang semakin banyak pekerjaan bisa didapat... intinya begitu..
Sumber: Arimbi Laraswati – Green River College, Auburn- Seattle, U.S.A
Saya memiliki seorang teman yang sedang menamatkan pendidikan di Green River College, Seattle-U.S.A. Kami sering berkomunikasi lewat internet dan sering bertukar cerita. Sejauh saya mendengarkan cerita-cerita teman saya tersebut, ada beberapa hal yang menurut saya bisa saya tuliskan pada blog ini.
Dalam segi pendidikan, sekolah di Amerika cukup liberal. Pelajar bebas menentukan subject yang diinginkan dan harus memiliki degree plan, jadi pelajar mengetahui kelas yang diambil dan kapan pelajar tersebut lulus.
Mengenai result, bila 2 kali GPA pelajar failed, pelajar tersebut drop out dari college/ university. Cukup strict memang, berbeda dengan Indonesia yang bisa mengulang hingga 7 tahun. Bila pelajar merasa tidak mampu belajar di faculty yang dipilih, pelajar dapat pindah jurusan dengan tidak mengulang dari awal karena ada kelas yang memang bisa diambil untuk semua jurusan.
Selain itu, dari tingkat SD hingga SMA, citizens dapat bersekolah gratis.
Dalam segi kehidupan, culture Amerika lebih santai juga bebas. Umur 18 dianggap sudah dewasa. Orang tua boleh melepas anaknya untuk tinggal sendiri dan rata-rata anak tersebut harus bekerja. Bebasnya, bagi mereka yang berumur dibawah 21 tahun, tidak membutuhkan orang tua untuk melakukan aborsi. Namun, mereka butuh orang tua untuk tindik.
Salah satu yang cukup menarik adalah pemberian uang tip bagi pelayan restoran, setiap cent pun berharga.
Selain itu, pada saat bekerja, mereka benar-benar bekerja. Tetapi jika libur seperti weekend, mereka benar-benar libur.
Saya memiliki seorang teman yang sedang menamatkan pendidikan di Green River College, Seattle-U.S.A. Kami sering berkomunikasi lewat internet dan sering bertukar cerita. Sejauh saya mendengarkan cerita-cerita teman saya tersebut, ada beberapa hal yang menurut saya bisa saya tuliskan pada blog ini.
Dalam segi pendidikan, sekolah di Amerika cukup liberal. Pelajar bebas menentukan subject yang diinginkan dan harus memiliki degree plan, jadi pelajar mengetahui kelas yang diambil dan kapan pelajar tersebut lulus.
Mengenai result, bila 2 kali GPA pelajar failed, pelajar tersebut drop out dari college/ university. Cukup strict memang, berbeda dengan Indonesia yang bisa mengulang hingga 7 tahun. Bila pelajar merasa tidak mampu belajar di faculty yang dipilih, pelajar dapat pindah jurusan dengan tidak mengulang dari awal karena ada kelas yang memang bisa diambil untuk semua jurusan.
Selain itu, dari tingkat SD hingga SMA, citizens dapat bersekolah gratis.
Dalam segi kehidupan, culture Amerika lebih santai juga bebas. Umur 18 dianggap sudah dewasa. Orang tua boleh melepas anaknya untuk tinggal sendiri dan rata-rata anak tersebut harus bekerja. Bebasnya, bagi mereka yang berumur dibawah 21 tahun, tidak membutuhkan orang tua untuk melakukan aborsi. Namun, mereka butuh orang tua untuk tindik.
Salah satu yang cukup menarik adalah pemberian uang tip bagi pelayan restoran, setiap cent pun berharga.
Selain itu, pada saat bekerja, mereka benar-benar bekerja. Tetapi jika libur seperti weekend, mereka benar-benar libur.
Monday, February 22, 2010
Budaya Negara Lain
Berikut langsung saya copy dari message teman saya yang kuliah di jerman.
Mmmm...karakter orang2 Jerman pada umumnya terbagi dua. Ada golongan muda dan golongan tua. Dan diantara dua golongan ini sering terjadi salah paham dan GAP yg sangat besar. Para manula di jerman dibiayai oleh pemerintah dalam urusan asuransi dan uang hidup bulanan, sehingga mereka mengatakan bahwa kaum muda pemalas dan tidak mau kerja.Hal ini mungkin dilatarbelakangi oleh masa lalu mereka yg ditindas dan hidup dalam diktator militer Hitler. Ini dapat dilihat dari sikap mereka terhadap warga asing (Gue dan teman2 gue dr berbagai negara lainnya) di pusat2 keramaian maupun tempat lain. Sedangkan golongan muda mengatakan bahwa kaum tua tidak mengerti aspirasi mereka,dan selalu mengatur hingga ke cara berpakain,pemakaian tata bahasa (hoch deutsch atau umgangsprache), hingga cara berinteraksi dgn warga negara lain. Tetapi di lain pihak, hal ini menguntungkan bagi kaumpendatang di Jerman, karena mereka akan lebih mudah menjalin persahabatn dgn warga negara yg umurnya relatif lebih muda.
Kedisiplinan dan tepat waktu adalah dua hal utama yg gue bisa liat disini. Waktu kereta detail hingga ke hitungan menit,dan selaluu berangkat di saat yg tercetak di ticket,tanpa memedulikan penumpang yg terlambat naik. Untuk menyeberang jalan,harus melihat lampu penyebrangan,sekalipun jalanan kosong melompong,kalau tidak akan di denda. Dan global warming merupakan masalah utama disini. Berbelanja dimana pun juga tidak akan diberi kantong plastik atau kertas, jadi harus membawa tas masing-masing,sampah pun demikian, harus dipisah ke 3 bagian,kalau tidak akan ditegur. Mengenai agama,umumnya mereka atheis dan tidak mempercayai akan adanya Tuhan Yesus (even thou theyi parents are Christian or Catholic) Mereka percaya akan adanya "Gott" tetapi tidak mengenal "Dia" secara pribadi, dan mereka dgn bangga mengatakan bahwa agama mereka Atheis.
Mayangsari Latumahina
08130110059
Mmmm...karakter orang2 Jerman pada umumnya terbagi dua. Ada golongan muda dan golongan tua. Dan diantara dua golongan ini sering terjadi salah paham dan GAP yg sangat besar. Para manula di jerman dibiayai oleh pemerintah dalam urusan asuransi dan uang hidup bulanan, sehingga mereka mengatakan bahwa kaum muda pemalas dan tidak mau kerja.Hal ini mungkin dilatarbelakangi oleh masa lalu mereka yg ditindas dan hidup dalam diktator militer Hitler. Ini dapat dilihat dari sikap mereka terhadap warga asing (Gue dan teman2 gue dr berbagai negara lainnya) di pusat2 keramaian maupun tempat lain. Sedangkan golongan muda mengatakan bahwa kaum tua tidak mengerti aspirasi mereka,dan selalu mengatur hingga ke cara berpakain,pemakaian tata bahasa (hoch deutsch atau umgangsprache), hingga cara berinteraksi dgn warga negara lain. Tetapi di lain pihak, hal ini menguntungkan bagi kaumpendatang di Jerman, karena mereka akan lebih mudah menjalin persahabatn dgn warga negara yg umurnya relatif lebih muda.
Kedisiplinan dan tepat waktu adalah dua hal utama yg gue bisa liat disini. Waktu kereta detail hingga ke hitungan menit,dan selaluu berangkat di saat yg tercetak di ticket,tanpa memedulikan penumpang yg terlambat naik. Untuk menyeberang jalan,harus melihat lampu penyebrangan,sekalipun jalanan kosong melompong,kalau tidak akan di denda. Dan global warming merupakan masalah utama disini. Berbelanja dimana pun juga tidak akan diberi kantong plastik atau kertas, jadi harus membawa tas masing-masing,sampah pun demikian, harus dipisah ke 3 bagian,kalau tidak akan ditegur. Mengenai agama,umumnya mereka atheis dan tidak mempercayai akan adanya Tuhan Yesus (even thou theyi parents are Christian or Catholic) Mereka percaya akan adanya "Gott" tetapi tidak mengenal "Dia" secara pribadi, dan mereka dgn bangga mengatakan bahwa agama mereka Atheis.
Mayangsari Latumahina
08130110059
Subscribe to:
Posts (Atom)






